Sawit Digusur Tanpa Ganti Rugi!, DPR RI Dinilai “Macan Ompong”?

Minggu, 10 Mei 2026 - 00:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suara Seni, Morowali — Konflik agraria kembali menelanjangi relasi timpang antara korporasi tambang dan rakyat kecil.

Lahan kelapa sawit milik H. Gusti di Blok MBB 1, Desa Seba-Seba, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dilaporkan digusur tanpa ganti rugi oleh PT Vale Indonesia Tbk.

Hingga kini, keadilan yang dijanjikan negara masih terasa jauh dari jangkauan korban.

Penggusuran tersebut bukan sekadar menghilangkan sumber penghidupan, tetapi juga memunculkan dugaan pelanggaran serius.

Tanaman sawit diratakan alat berat tanpa proses inventarisasi maupun penilaian (appraisal) nilai tanam tumbuh secara transparan.

“Ini penindasan nyata. Tanaman habis digusur, tapi hak saya tidak dibayar. Bahkan tidak pernah ada perhitungan. Apakah perusahaan sebesar ini kebal hukum?” tegas H. Gusti.

Dugaan Pelanggaran di Luar Izin

Berdasarkan aduan resmi H. Gusti (Nomor: 01.GRI/IX/2025), aktivitas penggusuran diduga dilakukan di luar wilayah Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH).

Temuan ini turut disorot oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, memperkuat indikasi adanya pelanggaran administratif hingga pidana.

Namun, alih-alih menghadirkan solusi tegas, Direktorat Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat justru mengembalikan perkara ke mekanisme musyawarah.

Sikap ini dinilai sebagai bentuk pembiaran terhadap ketimpangan relasi antara warga dan korporasi.

“Musyawarah tidak akan pernah adil jika satu pihak merasa di atas hukum,” ujar pendamping hukum korban.

Komisi III DPR RI Disorot: “Macan Ompong”

Sorotan tajam kini mengarah ke Komisi III DPR RI. Lembaga yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan itu dinilai lamban dan tidak menunjukkan keberanian politik untuk memanggil manajemen PT Vale dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP).

Pernyataan anggota DPR, Frederik Kalalembang, yang menegaskan tidak mentolerir pelanggaran hukum, belum diikuti langkah konkret di tingkat komisi.

Kondisi ini memicu kritik keras dari berbagai pihak. Aktivis muda Kayla Anindya Putri menyebut Komisi III layaknya “macan ompong”.

“Rakyat ditumbalkan di bawah kaki korporasi. Komisi III seperti tuli dan bisu. Kalau hanya diam, untuk apa fungsi pengawasan itu?” kecamnya.

Tuntutan Menguat: Negara Jangan Absen

Gelombang desakan publik kini menguat. Masyarakat terdampak dan organisasi sipil menuntut:

  • Komisi III DPR RI segera menggelar RDP dan memanggil PT Vale secara paksa
  • Pemerintah menindaklanjuti dugaan aktivitas di luar IPPKH
  • Penghentian sementara operasional di lahan sengketa hingga hak warga dipenuhi

Desakan juga diarahkan kepada Presiden Prabowo Subianto agar turun tangan langsung memastikan hukum tidak tunduk pada kekuatan modal.

Potret Krisis Keadilan Agraria

Kasus H. Gusti menjadi cermin rapuhnya perlindungan hak atas tanah di wilayah konsesi tambang.

Di satu sisi, investasi terus didorong; di sisi lain, hak dasar warga justru tergerus tanpa kepastian hukum.

Ketika negara memilih netral dalam konflik yang timpang, keadilan berisiko berubah menjadi ilusi.

Dan ketika parlemen gagal menjalankan fungsi pengawasan, rakyat hanya menyisakan dua pilihan: melawan, atau kehilangan segalanya.

Berita Terkait

Peternak Ayam Petelur di Pekalongan Gelar Aksi, Tuntut Harga Telur Naik dan Pakan Turun.
Taufik Jalankan Amanat Presiden Berujung Tersangka!, Polrestabes Makassar Jalankan Proses Hukum, Lalu Amanat Siapa?
Tindak Lanjuti Video Viral, Polsek Wiradesa Razia Cafe dan Amankan Enam Botol Miras
Program P3A Disebut Aspirasi DPR RI, Ketua Kelompok di Karassing Mengaku Tak Pernah Tahu: Siapa Pengusul, Siapa Penerima?
Dewan Penasehat Sambar.id: Isu Surpres Pergantian Kapolri Menyesatkan, Hak Prerogatif Presiden Tak Bisa Diintervensi
Sempat Dicari Semalaman, Petani di Kandangserang yang Dilaporkan Hilang Akhirnya Pulang dengan Selamat
Lahan Pembuangan Limbah Kayu di Kajen Terbakar, Api Diduga Berasal dari Pembakaran Sampah Sisa Tebu
Konsisten Mengawal dan Memperjuangkan Suara Masyarakat Pesisir, Sumar Rosul Dianugerahi Parliamentary Awards 2026 Jawa Pos Radar Semarang.
Berita ini 89 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 22:41 WIB

Peternak Ayam Petelur di Pekalongan Gelar Aksi, Tuntut Harga Telur Naik dan Pakan Turun.

Senin, 10 Agustus 2026 - 04:05 WIB

Taufik Jalankan Amanat Presiden Berujung Tersangka!, Polrestabes Makassar Jalankan Proses Hukum, Lalu Amanat Siapa?

Minggu, 9 Agustus 2026 - 22:45 WIB

Tindak Lanjuti Video Viral, Polsek Wiradesa Razia Cafe dan Amankan Enam Botol Miras

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Program P3A Disebut Aspirasi DPR RI, Ketua Kelompok di Karassing Mengaku Tak Pernah Tahu: Siapa Pengusul, Siapa Penerima?

Rabu, 5 Agustus 2026 - 14:47 WIB

Sempat Dicari Semalaman, Petani di Kandangserang yang Dilaporkan Hilang Akhirnya Pulang dengan Selamat

Berita Terbaru