SuaraSeni.Online//PEKALONGAN, JATENG – Penyaluran bantuan ternak sapi kepada kelompok penerima manfaat di Desa Telogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menuai pertanyaan. Dugaan ketidaksesuaian antara realisasi bantuan dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) mencuat setelah salah satu ketua kelompok mengungkapkan adanya perbedaan jumlah sapi yang diterima serta persoalan pembayaran kepada pedagang.
Ketua Kelompok Ternak Arga Kencana, Iwan, mengungkapkan bahwa kelompoknya semula menerima tujuh ekor sapi. Namun, sekitar satu minggu setelah sapi tiba, empat ekor di antaranya ditarik kembali oleh pedagang dengan alasan pembayaran belum diselesaikan.
Hal tersebut disampaikan Iwan saat dikonfirmasi pada Kamis (17/9/2026). Ia menyebut sapi-sapi tersebut didatangkan melalui pihak yang ditunjuk untuk mengelola pembelian bantuan.
“Saya ketua kelompok Arga Kencana Dukuh Si Petung. Awalnya sapi dikirim tujuh ekor, tetapi ditarik lagi sama juragannya (pedagang sapi) empat ekor. Katanya uangnya belum lunas,” ujar Iwan.
Iwan menjelaskan, bantuan ternak tersebut bersumber dari anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kelompoknya disebut memperoleh anggaran sebesar Rp100 juta yang dialokasikan untuk pembelian sapi, sedangkan kandang yang digunakan merupakan milik pribadi Iwan.
Namun, Iwan mengaku tidak terlibat langsung dalam penyusunan proposal pengajuan bantuan. Ia mengatakan hanya diminta melengkapi sejumlah persyaratan, mencari anggota kelompok, serta membubuhkan tanda tangan pada dokumen yang diperlukan.
“Saya memang tidak tahu cara membuat proposal atau mengajukan bantuan kepada pemerintah. Saya hanya tanda tangan, kalau ada surat yang kurang saya disuruh tanda tangan dan mencari anggota,” katanya.
Persoalan mulai muncul setelah dana bantuan tersebut dicairkan. Menurut pengakuan Iwan, uang sebesar Rp100 juta yang diambilnya kemudian diminta oleh Daryono, yang disebut sebagai Ketua Kelompok Ternak Cakra Buana.
Iwan menuturkan, dirinya mendapat informasi bahwa pembelian sapi tidak dapat dilakukan secara mandiri oleh kelompoknya dan harus melalui pihak tertentu. Ia juga mengaku khawatir akan dikenai sanksi apabila membeli sapi secara langsung.
“Setelah uang cair, saya mengambil uang senilai Rp100 juta. Kemudian uang tersebut diminta Pak Daryono. Katanya kalau dibelikan sendiri bisa kena sanksi,” ungkapnya.
Iwan mengaku sempat menyimpan uang tersebut selama satu hari di rumah untuk memastikan mekanisme pembelian sapi sesuai dengan RAB. Akan tetapi, ia menyebut mendapat tekanan agar segera menyerahkan dana.
“Saya sempat pending satu hari di rumah. Kemudian saya dimarahi. Katanya, ‘Kamu nggak tahu yang bikin proposal saya, yang pengajuan saya. Kamu nggak tahu apa-apa.’ Saya merasa ditekan,” tuturnya.
Karena merasa tidak memahami proses pengadaan, Iwan akhirnya menyerahkan seluruh dana tersebut kepada Daryono untuk dibelikan sapi sesuai dengan ketentuan dalam RAB.
“Daripada saya ditakut-takuti dan saya tidak tahu apa-apa, akhirnya uang saya serahkan ke sana. Katanya mau dibelikan sapi sesuai RAB,” ujarnya.
Iwan mengatakan, proses pembelian sapi tidak berlangsung sesuai perkiraan awal. Ia mengaku semula mendapat informasi bahwa sapi akan dibelikan dalam waktu satu hingga dua hari. Namun, sapi baru tiba sekitar tiga minggu setelah uang diserahkan.
“Awalnya katanya satu atau dua hari akan dibelikan. Sampai satu minggu, dua minggu belum ada. Akhirnya saya telepon dan saya samperin ke rumah Pak Daryono. Setelah itu baru dibelikan,” katanya.
Setelah proses pembelian, sebanyak tujuh ekor sapi didatangkan dan ditempatkan di kandang milik Iwan. Akan tetapi, sekitar satu minggu kemudian, empat ekor sapi diambil kembali oleh pedagang.
Menurut Iwan, pedagang beralasan pembayaran sapi belum lunas. Kondisi tersebut membuat dirinya mempertanyakan pengelolaan dana bantuan yang sebelumnya telah diserahkan seluruhnya kepada pihak yang ditunjuk untuk melakukan pembelian.
“Padahal uang dari saya sudah saya kasih semua ke Pak Daryono,” katanya.
Selain persoalan pembayaran, Iwan juga menyoroti jenis sapi yang diterima kelompoknya. Ia menyebut RAB mencantumkan sapi jenis Simental, sementara sapi yang datang menurut pengamatannya memiliki karakteristik persilangan.
“Saya mintanya jenis sapi Simental karena RAB-nya Simental. Saya tidak mau tahu, harus dibelikan Simental. Yang datang itu menurut saya bukan Simental sesuai spesifikasi. Kalau Simental kan 100 persen, sementara yang datang saya melihat seperti persilangan,” ujarnya.
Iwan juga mengungkapkan adanya perbedaan jumlah sapi antara dokumen anggaran dan realisasi penerimaan. Berdasarkan RAB yang ia ketahui, kelompoknya seharusnya menerima delapan ekor sapi. Namun, pada tahap awal, hanya tujuh ekor yang didatangkan.
“Kalau di RAB jumlahnya delapan ekor, berarti masih kurang satu. Yang datang tujuh ekor,” katanya.
Setelah empat ekor sapi ditarik oleh pedagang, Iwan menyebut kembali ada sapi yang didatangkan sehingga jumlah sapi di kandangnya kembali menjadi tujuh ekor. Meski demikian, ia masih mempertanyakan kesesuaian jumlah dan spesifikasi sapi dengan ketentuan bantuan.
Iwan berharap persoalan tersebut mendapat perhatian dan dilakukan klarifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat, khususnya Kelompok Ternak Arga Kencana dan Cakra Buana.
“Tolong Pak Daryono diselidiki dan ditegur. Saya minta tolong disampaikan, ditelepon atau didatangi bagaimana. Yang perlu diklarifikasi itu kelompok saya dan kelompok Cakra Buana,” ujar Iwan.
Ia menambahkan, terdapat tiga kelompok yang menerima bantuan ternak sapi dan menurut pengakuannya proses pembelian dilakukan oleh Daryono. Namun, Iwan mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah kelompok penerima lainnya telah memperoleh sapi sesuai jumlah yang tercantum dalam RAB.
“Kalau kelompok milik Daryono sendiri dibelikan delapan atau tidak, saya tidak tahu,” katanya.
Sementara itu, Daryono yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp mengenai dugaan ketidaksesuaian penyaluran bantuan tersebut memberikan tanggapan singkat.
“Sudah beres mas,” jawab Daryono.
Ketika dimintai penjelasan lebih lanjut terkait jumlah sapi yang diterima, penggunaan dana Rp100 juta, kesesuaian jenis sapi dengan RAB, serta alasan empat ekor sapi sempat ditarik oleh pedagang, Daryono tidak memberikan tanggapan lanjutan.







