Dugaan Korupsi Dana ZIS di Bulukumba, PATI: Amanah Umat Tak Boleh Dikhianati

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SuaraSeni, Bulukumba — Di tengah denyut kehidupan masyarakat yang menjadikan zakat fitrah sebagai ritual sakral sekaligus wujud solidaritas sosial, muncul kabar yang mengusik nalar publik: dugaan pemotongan zakat hingga 12 persen oleh oknum aparat desa di wilayah Lembang.

Isu ini tidak berdiri sebagai sekadar peristiwa administratif. Ia menjelma menjadi persoalan etika, hukum, dan kepercayaan—tiga pilar yang selama ini menopang legitimasi pengelolaan dana umat.

Ritual Suci, Realitas yang Terganggu

Zakat fitrah bukan hanya kewajiban individual, tetapi juga simbol distribusi keadilan. Ia mengalir dari yang mampu kepada yang membutuhkan, tanpa sekat kepentingan.
Namun ketika muncul dugaan pemotongan, makna itu terdistorsi.

Apakah zakat masih utuh sebagai amanah?
Atau telah bergeser menjadi ruang abu-abu kekuasaan lokal?

Pertanyaan ini mengemuka setelah warga melaporkan adanya potongan yang tidak disertai penjelasan transparan.

PATI: Suara Jalanan yang Menolak Diam

Lembaga Pemuda Afiliasi Toleran Indonesia (PATI) merespons dengan aksi terbuka di kantor BAZNAS Kabupaten Bulukumba. Mereka tidak sekadar membawa tuntutan, tetapi juga narasi moral.

“Zakat adalah suara sunyi kaum dhuafa. Ketika itu dipotong tanpa kejelasan, yang terpotong bukan hanya angka, tetapi harapan,” tegas perwakilan PATI dalam orasinya.

Pernyataan ini menandai pergeseran isu dari ranah teknis ke ruang etis. Bahwa yang dipersoalkan bukan hanya prosedur, tetapi makna di baliknya.

Negara, Hukum, dan Ruang yang Harus Tegas

Dalam kerangka hukum, pengelolaan zakat telah diatur secara jelas:

  • UU No. 23 Tahun 2011 menegaskan prinsip amanah dan akuntabilitas
    Regulasi BAZNAS mengikat transparansi dalam distribusi
  • UU Tipikor membuka ruang pidana jika ada penyalahgunaan kewenangan
  • KUHP menempatkan pungutan tanpa dasar sebagai pelanggaran hukum
    Namun hukum tidak bekerja dalam ruang hampa.

Ia membutuhkan keberanian untuk ditegakkan.
Kasus ini menjadi ujian:

  • apakah negara hadir sebagai penjaga amanah, atau justru absen dalam praktik di lapangan?

BAZNAS dan Bayang-Bayang Kepercayaan

Sebagai lembaga resmi, BAZNAS berada di titik krusial. Ia bukan hanya pengelola, tetapi representasi kepercayaan publik.

Ketika dugaan muncul, publik tidak sekadar menuntut klarifikasi, tetapi juga konsistensi:

  • Apakah pengawasan berjalan efektif?
  • Apakah distribusi benar-benar sesuai prinsip syariat dan hukum?
  • Apakah ada ruang pembiaran?
  • Tanpa jawaban terbuka, yang tergerus bukan hanya citra, tetapi legitimasi.

DPRD, RDP, dan Harapan Transparansi

Langkah DPRD untuk membuka ruang Rapat Dengar Pendapat (RDP) menjadi sinyal awal. Namun publik menyadari, forum formal bukanlah akhir.

Transparansi bukan sekadar forum, tetapi proses berkelanjutan:

  • Membuka data
  • Menelusuri aliran dana
  • Menyampaikan hasil secara jujur
  • Antara Dugaan dan Pembuktian

Hingga kini, dugaan pemotongan zakat masih berada dalam tahap awal.

Belum ada keputusan hukum yang menetapkan pelanggaran.

Namun dalam ruang publik, persepsi telah bergerak lebih cepat dari proses hukum.
Dan di situlah tantangannya: bagaimana menjaga objektivitas tanpa mengabaikan keresahan masyarakat.

Zakat, Etika, dan Masa Depan Kepercayaan

Kasus ini mengajarkan satu hal penting:
bahwa pengelolaan dana keagamaan tidak cukup hanya benar secara administratif, tetapi juga harus terasa adil secara moral.

Zakat bukan sekadar angka yang berpindah tangan.

Ia adalah kontrak kepercayaan antara umat dan pengelolanya.

Ketika kontrak itu retak, dampaknya melampaui satu wilayah—ia bisa merembet menjadi krisis kepercayaan yang lebih luas.

Menjaga yang Tak Terlihat

Di balik angka 12 persen yang dipersoalkan, ada sesuatu yang lebih besar:
kepercayaan yang tidak terlihat, tetapi menentukan segalanya.

PATI telah bersuara.
Warga telah melapor.
DPRD membuka ruang.

Kini, giliran negara dan aparat hukum menjawab.

Karena menjaga zakat bukan hanya soal hukum, tetapi juga menjaga nurani publik.

Berita Terkait

Peternak Ayam Petelur di Pekalongan Gelar Aksi, Tuntut Harga Telur Naik dan Pakan Turun.
Taufik Jalankan Amanat Presiden Berujung Tersangka!, Polrestabes Makassar Jalankan Proses Hukum, Lalu Amanat Siapa?
Tindak Lanjuti Video Viral, Polsek Wiradesa Razia Cafe dan Amankan Enam Botol Miras
Program P3A Disebut Aspirasi DPR RI, Ketua Kelompok di Karassing Mengaku Tak Pernah Tahu: Siapa Pengusul, Siapa Penerima?
Dewan Penasehat Sambar.id: Isu Surpres Pergantian Kapolri Menyesatkan, Hak Prerogatif Presiden Tak Bisa Diintervensi
Sempat Dicari Semalaman, Petani di Kandangserang yang Dilaporkan Hilang Akhirnya Pulang dengan Selamat
Lahan Pembuangan Limbah Kayu di Kajen Terbakar, Api Diduga Berasal dari Pembakaran Sampah Sisa Tebu
Konsisten Mengawal dan Memperjuangkan Suara Masyarakat Pesisir, Sumar Rosul Dianugerahi Parliamentary Awards 2026 Jawa Pos Radar Semarang.
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 22:41 WIB

Peternak Ayam Petelur di Pekalongan Gelar Aksi, Tuntut Harga Telur Naik dan Pakan Turun.

Senin, 10 Agustus 2026 - 04:05 WIB

Taufik Jalankan Amanat Presiden Berujung Tersangka!, Polrestabes Makassar Jalankan Proses Hukum, Lalu Amanat Siapa?

Minggu, 9 Agustus 2026 - 22:45 WIB

Tindak Lanjuti Video Viral, Polsek Wiradesa Razia Cafe dan Amankan Enam Botol Miras

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Program P3A Disebut Aspirasi DPR RI, Ketua Kelompok di Karassing Mengaku Tak Pernah Tahu: Siapa Pengusul, Siapa Penerima?

Rabu, 5 Agustus 2026 - 14:47 WIB

Sempat Dicari Semalaman, Petani di Kandangserang yang Dilaporkan Hilang Akhirnya Pulang dengan Selamat

Berita Terbaru