Suaraseni.online, Jawa Barat|
OPINI – Legenda Prabu Siliwangi dan simbol Macan (Maung) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari memori kolektif masyarakat Tanah Pasundan. Saat ini, berbagai kalangan masyarakat mengabadikan nama Siliwangi sebagai lambang organisasi, institusi, hingga kesatuan militer. Fenomena ini bukan sekadar bentuk pengagungan visual, melainkan sebuah simbolisasi nyata terhadap nilai kekuatan, keberanian, dan wibawa yang diwariskan oleh Raja Pajajaran tersebut.
Secara historis, nama Siliwangi senantiasa membawa energi positif bagi rakyat Pasundan di sepanjang lintasan sejarah. Kehadiran figur silih wangi—yang bermakna saling mengharumkan atau pengganti yang baik—mencerminkan sosok pemimpin ideal. Filosofi ini menunjukkan sikap seorang pemimpin sejati yang mampu mengayomi dan melindungi rakyat dengan penuh kasih sayang (silih asih, silih asah, silih asuh).
Maka tidak mengherankan, kultur yang mengidentikkan simbol Maung dengan sebutan Siliwangi telah mengakar sangat kental di dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat. Hubungan emosional ini menciptakan ikatan kultural yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Lebih dari sekadar simbol kekuasaan, filosofi Maung Siliwangi juga memberikan contoh konkret mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam. Dalam tradisi masyarakat Sunda, Macan adalah penjaga hutan (leuweung). Oleh karena itu, personifikasi Siliwangi sebagai Maung seharusnya menginspirasi kita semua untuk aktif menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup di sekitar kita. Mewarisi nama Siliwangi berarti siap menjadi benteng pertahanan bagi kelestarian bumi Pasundan.
Bekasi, 22 Mei 2026
Oleh: Redaksi







